Text
Intisari / ED 661 OKT 2017
Pada liburan pertengahan tahun ini saya bertemu teman lama yang sedang mudik dari Jerman. “Sebuah hal sia-sia lembur sampai 12 jam tapi output yang dihasilkan sama dengan kerja 6 jam,” ucap teman saya saat mengomentari kebiasaan lembur para karyawan di Indonesia. Dia bercerita, jam kerjanya di di Jerman hanya 6 jam sehari. Selain itu dirinya juga diberi cuti 6 minggu/tahun plus uang saku liburan. Namun semua target yang diberikan perusahaan tak pernah keteteran.
Tentu ini agak janggal. Bagaimana mungkin dengan jam kerja lebih sedikit mereka bisa jauh lebih produktif dibandingkan karyawan-karyawan di negara lain, termasuk Indonesia? Jawabannya, kata teman saya itu, ada pada perilaku kerja. Mereka tidak hanya bekerja keras, namun juga bekerja cerdas. “Kualitas jam kerja lebih penting dibanding kuantitas,” terangnya. Saat bekerja, para pekerja di Jerman benar-benar fokus pada pekerjaannya. Semua gangguan yang dirasa mengganggu konsentrasi, misal Facebook di komputer, disingkirkan.
Jika pekerjaan bisa diselesaikan dalam setengah jam, mereka tidak akan menyelesaikannya satu jam. Sebaliknya juga saat istirahat dan pulang kerja. Mereka sama sekali tak memikirkan pekerjaan di kantor. Saat di rumah, mereka benar-benar menikmati waktunya bersama keluarga. Fokus dan efi siensi waktu adalah kuncinya. Dengan bekerja cerdas, mereka bisa menghasilkan output lebih banyak ketimbang yang bekerja lembur.
Pada akhirnya, bekerja keras tanpa diiringi kerja cerdas hanyalah kesia-siaan belaka. Telaah lebih dalam tentang bekerja keras bisa disimak di rubrik Sorotan edisi ini dengan judul “Saatnya Kerja Cerdas Dan Menikmati Hidup” di hlm. 158. Semoga bermanfaat.
No other version available